Depok, Jawa Barat, 11 Februari 2026 — Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran terus menunjukkan dampak positif di satuan pendidikan. Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) yang merupakan salah satu program prioritas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kini tidak hanya menjadi perangkat pendukung, tetapi telah berperan sebagai media strategis dalam mendorong pembelajaran yang interaktif, visual, dan berpusat pada peserta didik.
Di SMAN 1 Samarinda, pemanfaatan PID telah menjadi bagian dari praktik pembelajaran sehari-hari. Guru SMAN 1 Samarinda, Alexander Rendi, yang mengajar di kelas X dan XI, menyampaikan bahwa perangkat tersebut hampir selalu digunakan dalam proses belajar mengajar. “Setiap saya masuk kelas, saya selalu memanfaatkan IFP sebagai media pembelajaran,” ujar Alexander.
Menurut Alexander, materi pembelajaran berbasis visual menjadi paling efektif ketika disajikan melalui PID karena mampu menarik perhatian siswa dan meningkatkan fokus belajar. Selain untuk penyajian materi, PID juga dimanfaatkan untuk menghadirkan gim interaktif yang melibatkan siswa secara langsung, sehingga menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan mendorong keaktifan peserta didik.

Pemanfaatan PID atau IFP turut meningkatkan interaksi antara guru dan siswa. Namun demikian, Alexander menegaskan bahwa peran pendidik tetap menjadi kunci dalam keberhasilan pembelajaran. “PID adalah media bantu. Menarik atau tidaknya pembelajaran sangat bergantung pada bagaimana guru memanfaatkannya,” jelasnya. Sebagai guru mata pelajaran sejarah, ia secara konsisten menyajikan konten visual untuk memudahkan siswa memahami peristiwa masa lalu.
Salah satu inovasi pembelajaran yang digunakan adalah pemanfaatan museum virtual yang diakses melalui PID. Melalui teknologi tersebut, siswa diajak melihat langsung peninggalan sejarah seolah berada di dalam museum. Metode ini dinilai efektif dalam menghadirkan informasi sejarah ke dalam kelas dan memicu rasa ingin tahu siswa, yang kemudian mendorong munculnya interaksi dan diskusi selama pembelajaran berlangsung.
Dari sisi pemahaman materi, keberadaan PID memberikan pengaruh signifikan. Perangkat ini membantu guru memaparkan materi secara lebih jelas sekaligus meningkatkan keaktifan siswa. Dengan fitur-fitur interaktif, peserta didik dapat terlibat langsung dalam pembelajaran, termasuk mencoba berbagai permainan edukatif yang disajikan melalui PID.
Terkait kesiapan guru, pelatihan penggunaan PID telah diberikan di tingkat sekolah dan dinilai sangat membantu. Pelatihan tersebut memberikan bekal bagi guru dalam memanfaatkan PID secara optimal sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berbagai fitur, seperti whiteboard digital, akses internet, pemutaran video pembelajaran, hingga kemampuan menghubungkan berbagai perangkat, dirasakan sangat mendukung proses belajar mengajar. Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait akses jaringan internet yang memengaruhi optimalisasi pemanfaatan PID.
Pada kesempatan yang berbeda, dari sisi kebijakan dan pendampingan, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin, menyampaikan bahwa dinas memberikan dukungan komprehensif agar PID benar-benar dimanfaatkan dalam pembelajaran di kelas. Dukungan tersebut meliputi pelatihan penggunaan PID bagi guru, penguatan kebijakan yang mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, serta fasilitasi pengimbasan praktik baik dan penyediaan panduan pemanfaatan PID agar penggunaannya selaras dengan tujuan pembelajaran.

Selain itu, Dinas Pendidikan Kota Mataram juga melakukan pendampingan berkelanjutan melalui pengawas sekolah dalam kegiatan supervisi akademik, pengimbasan, serta forum berbagi praktik baik antar guru dan sekolah. Pendampingan difokuskan pada pemanfaatan PID sebagai media interaktif, bukan sekadar media presentasi, sehingga mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dan menciptakan interaksi dua arah dalam pembelajaran.
Pemanfaatan PID atau IFP di sekolah-sekolah tersebut sejalan dengan kebijakan nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dalam pembukaan Konsolidasi Nasional 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa program digitalisasi melalui perangkat ini telah terealisasi secara menyeluruh. “Program IFP, alhamdulillah, seluruhnya untuk sekitar 288 ribu satuan pendidikan telah terdistribusi 100 persen dan hampir seluruhnya sudah mulai dipergunakan,” ujarnya, di Kota Depok, Jawa Barat, Senin (9/2).
Mendikdasmen juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan program Digitalisasi Pembelajaran. “Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan Bapak dan Ibu sekalian dalam pelaksanaan program Digitalisasi Pembelajaran, sehingga program Bapak Presiden dapat kami laksanakan dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.
Ke depan, Kemendikdasmen berkomitmen untuk memperkuat digitalisasi pembelajaran secara bertahap. Dalam berbagai kesempatan, Mendikdasmen menyampaikan rencana penambahan perangkat digital di satuan pendidikan. Setiap sekolah direncanakan akan memperoleh tambahan tiga PID yang mulai diupayakan untuk didistribusikan pada tahun 2026.
Dengan kolaborasi antara guru, sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat, pemanfaatan PID diharapkan dapat memperkuat transformasi digital pembelajaran serta meningkatkan kualitas, interaksi, dan efektivitas proses belajar mengajar di sekolah secara berkelanjutan.*** (Penulis: Rayhan/Editor: Stephanie, Seno H./Dokumentasi: Tim BKHM)
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 111/sipers/A6/II/2026
Penulis: Rayhan Parady
Editor: Denty Anugrahmawaty

