Colombo, Sri Lanka, 24 September 2026 — Pengalaman Indonesia membangun layanan publik dan ekosistem pendidikan digital mendapat ruang dalam diskusi global pada World CIO 200 Grand Finale 2026 di Colombo, Sri Lanka, 22–24 September 2026. Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Yudhistira Nugraha, menjadi satu-satunya perwakilan sektor pemerintah dalam delegasi Indonesia yang terpilih sebagai World CIO 200 Winner — Class of 2026, bersama CIO dan pemimpin teknologi Indonesia dari berbagai sektor.
Dalam BOTS 9.0 – Book of Titans, Yudhistira tercatat pada sektor Government, dengan Rumah Pendidikan ditampilkan sebagai signature project. Baginya, bagian tersebut bermakna karena yang mendapat ruang dalam publikasi global bukan hanya perjalanan seorang pemimpin teknologi, tetapi juga pengalaman Indonesia membangun ekosistem digital pendidikan nasional.
Yudhistira juga tampil dalam sesi “Government Without Borders: Who Will Build the World’s Next Digital Nation?”, membawa pengalaman 20 tahun bekerja di pemerintahan—dari e-government, keamanan siber dan pelindungan data pribadi, Jakarta Smart City, hingga transformasi digital pendidikan dan komunikasi publik.
The World CIO 200 Grand Finale 2026 untuk pertama kalinya diselenggarakan di Sri Lanka. Konferensi utama pada 23 September di Cinnamon Life, Colombo, berlangsung di bawah patronase Perdana Menteri Sri Lanka Dr. Harini Amarasuriya dan dihadiri Menteri Science and Technology Prof. Chrishantha Abeysena. Pemerintah Sri Lanka mencatat lebih dari 200 pemimpin teknologi dan perusahaan dari lebih 50 negara mengikuti konferensi tersebut.
Dalam sambutannya, Perdana Menteri Harini Amarasuriya menempatkan transformasi digital dalam konteks pembangunan yang lebih luas. Teknologi, menurutnya, perlu memberi nilai publik yang nyata dan mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Sementara itu, Prof. Chrishantha Abeysena membawa perspektif pemerintah melalui Ministerial Welcome bertema “Science, Tech & Sovereign Innovation.”

Dari Jakarta ke Transformasi Digital Pendidikan
Dalam perkenalannya di hadapan peserta, Yudhistira menceritakan perjalanan karier di empat lingkungan pemerintahan: Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kemendikbudristek, dan kini Kemendikdasmen.
Di Kominfo, pekerjaannya antara lain bersentuhan dengan keamanan siber, pelindungan data pribadi, e-government, literasi digital, dan pengembangan sumber daya manusia. Ketika memimpin Jakarta Smart City, tantangannya menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga: bagaimana teknologi dapat membantu pemerintah memahami kebutuhan masyarakat dan membuat pelayanan kota lebih mudah dijangkau, termasuk melalui Superaplikasi JAKI.
Pengalaman itu bergerak ke skala nasional ketika Yudhistira memimpin Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek dan Kemendikdasmen. Salah satu pekerjaan pada periode tersebut adalah pengembangan Superaplikasi Rumah Pendidikan, ekosistem digital yang mengintegrasikan berbagai layanan pendidikan dalam satu platform sesuai dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto terkait Digitalisasi Pembelajaran.
Pada 9 Juli 2026 di Jenewa, Rumah Pendidikan dinobatkan sebagai Winner WSIS Prizes 2026 kategori e-Government. WSIS Prizes 2026 menerima 1.595 proyek dari 122 negara. Rumah Pendidikan juga menjadi inovasi Indonesia pertama yang meraih predikat Winner pada kategori e-Government sejak WSIS Prizes dimulai pada 2012.
Kini, melalui BKHM, Yudhistira melihat transformasi digital dari sisi lain. Keberhasilan tidak berhenti ketika aplikasi diluncurkan atau berbagai sistem berhasil diintegrasikan. Pemerintah juga harus mampu mendengarkan masyarakat, memahami pengalaman mereka, menjelaskan perubahan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan membangun kepercayaan.

Membawa Perspektif Pemerintah Indonesia
Kehadiran Yudhistira memiliki konteks tersendiri karena ia menjadi satu-satunya perwakilan sektor pemerintah Indonesia dalam delegasi Indonesia yang terpilih sebagai World CIO 200 Winner — Class of 2026. Delegasi Indonesia juga mencakup Vinardo Susanto, Andri Hidayat, Josafat Moeljono, Hendy Harianto, Yessie Yosetya, Irvan Bastian Arief, Ichwan Peryana, Edy Susanto, Sudarto Unsurlany, dan Regent Chowin.
Mereka membawa pengalaman dari beragam sektor, mulai telekomunikasi, kesehatan, otomotif, pertambangan dan ritel hingga logistik, layanan keuangan, dan bisnis digital. Keragaman tersebut mempertemukan pemerintah dan industri dalam persoalan yang semakin serupa: AI, keamanan siber, data, pengalaman pengguna, talenta, dan kepercayaan di tengah perubahan teknologi yang cepat.
Sebelumnya, pada World CIO 200 Indonesia Edition di Jakarta, 3 Juni 2026, Yudhistira memperoleh CIO 200 Recognition dalam Master Category, kategori bagi pemimpin digital dengan pengalaman 15–20 tahun. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke Grand Finale di Colombo sebagai bagian dari World CIO 200 Winner — Class of 2026.
Bagi Yudhistira, nilai forum tersebut tidak berhenti pada pengakuan. Yang lebih penting adalah kesempatan membawa pengalaman sektor publik Indonesia ke meja yang sama dengan para pemimpin teknologi lintas industri dan negara.
Sebab pada akhirnya, ukuran transformasi digital pemerintah bukan berapa banyak aplikasi yang dibangun. Pertanyaannya lebih sederhana: apakah teknologi membuat masyarakat lebih mudah memperoleh pelayanan, tetap terlayani ketika akses digital terbatas, dan semakin percaya kepada pemerintah?


