Tarakan, Kalimantan Utara, Kemendikdasmen — Bagi murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 11 Tarakan, Kalimantan Utara, pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) tidak selalu berarti berhadapan dengan konsep yang rumit atau teknologi canggih. Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari kegiatan kokurikuler murid kelas VII SNT 11 Tarakan. Dalam prosesnya, murid diminta menganalisis permasalahan pada permainan tradisional yang mereka kenal sebagai dasar untuk merancang modifikasi dengan pendekatan STEM.

Guru Pendidikan Pancasila SNT 11 Tarakan, Valerie Nadya Stien, mengatakan murid pada awalnya sempat bingung memahami STEM. Namun, seiring proses pembelajaran yang dilalui, murid mulai memahami bagaimana konsep tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka.
“Untuk saat ini murid sedang memasuki tahap perancangan modifikasi permainan tradisional menggunakan STEM. Akan tetapi, murid masih membutuhkan ide untuk bagaimana mengkreasikan dengan STEM dengan peralatan yang ada,” ujar Valerie.
Pada pertemuan terakhir, murid diminta menganalisis permainan tradisional dan menemukan permasalahan yang muncul saat permainan tersebut dilakukan. Dari proses tersebut, muncul berbagai ide modifikasi.
“Misalnya, anak-anak menemukan masalah ketika bermain layang-layang, benangnya terkadang mudah kusut atau melilit. Sehingga mereka ingin membuat gulungan benang seperti pada pancing ikan,” tutur Valerie.
Menurut Valerie, murid sudah mulai memahami penerapan konsep-konsep STEM, meskipun sesekali masih membutuhkan penguatan untuk mendapatkan lebih banyak wawasan dalam mengaplikasikannya. “Sejauh ini murid sudah paham penggunaan STEM, bahkan ketika unjuk karya prastudi mereka juga sudah menerapkan hal tersebut,” ucapnya.

Antusiasme murid juga terlihat ketika mereka mulai mengembangkan permainan yang memang dekat dengan keseharian. Salah satunya Kaila Almira Mariza, murid kelas VIIA SNT 11 Tarakan, yang bersama kelompoknya memilih congklak untuk dimodifikasi.
“Di STEM ini kita belajar untuk mendesain dan menginovasikan permainan tradisional bersama teman-teman. Permainan tradisional yang dipilih oleh saya dan teman-teman kelompok saya adalah permainan congklak. Kami akan memberikan kaki penyangga agar tubuh tidak terlalu bungkuk saat bermain congklak,” kata Kaila.
Ide lain muncul dari kelompok Muhammad Rizky Pradipta, murid kelas VIIB. Kelompoknya memilih permainan lompat tali dan mencoba memodifikasinya agar dapat dimainkan secara bersama-sama dan lebih teratur. Rizky mengaku sempat merasa gugup ketika pertama kali mengikuti pembelajaran STEM karena mengira STEM akan sulit. Namun, setelah menjalaninya, ia justru menemukan pengalaman yang menyenangkan.
“Awalnya saya pikir pembelajaran STEM itu sangat susah. Tapi setelah memasuki pembelajaran STEM, saya merasa ternyata menyenangkan juga,” ujarnya. Ia berharap fasilitas di SNT 11 Tarakan semakin memadai sehingga pembelajaran STEM dapat berjalan semakin optimal.
Pengalaman serupa dirasakan Nabila Queena Tiffany Azzahra, murid kelas VIIB. Pada awalnya, ia mengaku ragu dan merasa gugup mengikuti pembelajaran STEM. Namun, setelah prosesnya berjalan, perasaan tersebut berubah menjadi senang dan antusias. “Awal-awal STEM itu ragu-ragu dan gugup. Tapi setelah kami menjalani STEM ini, mulai rasa senang, dan antusias,” kata Nabila.
Bersama kelompoknya, Nabila memodifikasi permainan petak umpet menjadi permainan “infeksi”. Dalam permainan tersebut, setelah pencari yang menemukan seorang pemain yang bersembunyi, pemain tersebut kemudian ikut mencari pemain lainnya yang masih bersembunyi.
Sementara itu, Yahya N Pandita, murid kelas VIIA, mengatakan pembelajaran STEM membuatnya lebih memahami materi yang disampaikan guru sekaligus belajar membuat desain permainan tradisional yang nantinya akan mereka inovasikan. “Setelah saya belajar STEM merasa senang karena dapat memahami serta menangkap apa yang disampaikan oleh guru-guru. Dari pembelajaran itu, dapat membuat desain permainan tradisional yang akan kami inovasikan nantinya,” ujar Yahya.
Ia berharap hasil modifikasi permainan tersebut nantinya dapat digunakan oleh orang lain yang ingin memainkannya. Bagi murid SNT 11 Tarakan, permainan tradisional yang selama ini dekat dengan keseharian mereka kini menjadi ruang untuk belajar menemukan masalah, menciptakan ide, dan mencoba menghadirkan solusi melalui STEM. (Stephanie / Editor: Denty / Dokumentasi: SNT 11 Tarakan)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

